Cuci darah akibat gagal ginjal punya asosiasi yang serem. Bayangkan, cuci darah dianggap “cuma manjangin umur”, cuma membuat pasein bertahan untuk beberapa tahun saja. Anggapan ini seolah mapan karena begitu sering terdengar penderita yang harus terus-terusan cuci darah, tak lama kemudian meninggal. Akibatnya kata cuci darah terdengar seperti vonis hukuman mati.
Tapi betulkah begitu?
Saya punya tetangga yang sudah 13 tahun harus terus-terusan cuci darah 2 kali dalam seminggu. Orangnya masih segar bugar dan malah tampak awet muda. Wajahnya tampak ceria dan malah murah senyum. Setiap hari bekerja pulang pergi kantor normal-normal saja. Sama sekali seperti tidak ada ganjalan dan kekesalan. Nothing to lose.
Khusus setiap hari Rabu dan Sabtu, masih di pagi buta dia harus pergi ke rumah sakit untuk dicuci darah dengan telentang sekitar 5 jam. Tangannya tampak banyak sekali bekas jarum suntik cuci darah yang besar-besar.
Ditanya apa rahasianya, dia bercerita simpel saja. Awalnya dia mengalami shock dan kecewa juga. Saudara-saudaranya pun dengan berbisik-bisik sempat menjatuhkan vonis, “Wah Si …paling nga lama lagi nih!” Tapi, lama-lama, sekitar 1-2 tahun dia terus belajar ikhlas menerima kenyataan. Pasti sangat sulit dan berat tapi pelan-pelan tumbuh juga. Dia terus belajar ikhlas, sabar, tawakal dan tak kalah pentingnya berbaik sangka kepada Allah.
Yang penting, katanya lebih lanjut, disiplin dan pantang. Harus terus disiplin jangan sampai terlambat cuci darah, dan pantang jangan banyak minum. Juga jangan terlalu banyak makan supaya racun tidak menumpuk di badan.